Khalila Butik Hijab Syar'i

Saturday, April 6, 2013

Makna Satu Kata #4 Alur: Perjalanan Kangkung


Pagi menjelang Dhuha. Matahari mulai tinggi. Berdua bersama ibu saya beringsut pergi ke pasar. Niatnya membeli beberapa ekor ikan nila segar untuk digoreng, lauk sarapan pagi ini. Wah, asik juga. Lumayan lama tidak jalan ka pasar pagi bersama ibu. Meski jaraknya cukup dekat di tengah kota, sekitar 15 menit dari rumah dengan mengendarai motor. Akhir pekan paling enak dihabiskan di rumah saja, masak-masak dan makan enak sama keluarga. Maklum, hari-hari biasa sebelum ke kampus suka tidak keburu sarapan bersama (bandel). Maka dari itu, kemarin malam kami membuat rencana masak ikan goreng favorit keluarga. Oh ya, jangan lupa masak juga cah kangkung dan sambal sebagai pelengkap.

Mari berburu ikan!

Sudah ada langganan ikan di pasar pagi, ikannya lumayan lengkap di sana. Meluncurlah kami dengan santai menuju TKP. Lhoh? Mas-mas pedagang ikannya mana? Celingukan kita jadinya. Ooh, ternyata lokasinya pindah agak ke selatan di ruas kiri jalan. Singkat cerita tidak pakai lama, terpilihlah 9 ikan-ikan nila gendut seberat 1,5 kg. Sekilonya kena 20 ribu rupiah. Itupun sudah ditawar dari harga awal 22 ribu rupiah. Lumayan, sisa uangnya buat bakal beli kangkung nanti di seberang jalan. Begitulah wanita dalam hal tawar-menawar. Meski terkadang harus ngotot-ngototan dengan si penjual, harga turun seribu dua ribu sudah senang minta ampun. Dalam teori ekonomi, potongan harga selalu memberi efek lebih kaya bagi pembeli. Ibuku memberi sedikit petunjuk cara memilih ikan. Pegang bagian dada ikan, cari yang masih kencang dan tidak lembek. Jadi, ikan yang kita pilih dipastikan dalam kondisi segar bugar sehat wal’afiat. Nah lo, bukannya itu ikan mati ya? Hehe..

Lanjut jalan ke los pedagang sayur-mayur. Karena ini pasar, barang tentu kita harus menentukan jenis sayur apa yang hendak kita beli. Biar tidak putar-putar, nanti malah tidak dapat yang dibutuhkan. Karena kita mau beli kangkung, kita ke pedagang kangkung. Meski ia juga menjual terong, alangkah lebih bijak kita tetap fokus membeli kangkung. Biar tidak jadi cah terong. Halah!

Nah, itu dia kangkungnya. Digelar oleh seorang ibu-ibu yang cukup renta. Kelelahan nampak jelas di kerut wajahnya. Sepagi dan setua itu, ia masih berjualan di pasar. Setia dengan dagangan sayurannya. Tapi, nampaknya ia terlelap cukup pulas.

“Buk, kangkungnya berapa buk?” tanya ibuku.

Masih belum menyahut. Ibuku menyenggol bahu si ibuk yang tengah asyik dengan mimpinya. Si ibu terbangun dan menyadari kehadiran dua sosok di depannya. Setengah tergagap ia berusaha mengingat harga kangkungnya.

“Lima ratus, satu ikat,” jawabnya  pelan.

“Seribu tiga nggih?” ibuku mencoba jurus menawarnya.

Mboten tawi buk,-tidak menawarkan. Kalo pedagang keliling jualnya sudah tujuh ratus lima puluh rupiah.” Si ibu melakukan pertahanan, dengan sedikit pembelaan. Iyakah? Batinku.

“Seribu tiga kalau boleh,” mulai minta kepastian.

Dereng angsal,Bu -belum boleh,Bu.” Kekeuh juga ni ibu yang jualan.

Ibuku jalan lagi. Coba cari pedagang kangkung tiga meter di sebelahnya. Ternyata sama saja. Harganya lima ratus perak juga seikat. Eh, waktu ditawar malah ditunjukin kangkung yang kualitasnya lebih buruk. Layu-layu, padahal yang ditawar ibuku juga tidak seberapa segar dari yang tadi. Urung, akhirnya ibuku memutuskan untuk membeli di pedagang kangkung yang pertama ia tawar.

“Sama-sama lima ratusnya, pilih yang sana aja. Lebih segar-segar. Heran, masa kangkung di rumah sama di pasar harganya sama,” geleng-geleng.

Ya, maklumlah bu. Mungkin karena kita end user kali ya. Jadi harganya ya di kasih segitu-gitu saja. Akhirnya tiga ikat kangkung seharga seribu lumaratus rupiah jadi kami bawa pulang bersama ikan-ikan yang lebih dulu kami beli. Lumayan. Namun yang paling menyenangkan adalah momen tawar-menawar di pasar, memang selalu sayang tuk di lewatkan.

***

Ada yang menarik bagi saya, menyadari bahwa harga-harga sayuran semisal seikat kangkung tadi ternyata tak lebih mahal dari harga sebotol air mineral yang biasa saya beli di kampus. Seharga sekali parkir di swalayan dan lebih murah daripada ngasih pengamen yang lewat depan rumah. Iya, soalnya di tempat saya, pengamen suka melengos sih kalo dikasih koin lima ratusan. Minimal serbu baru bilang terimakasih mbak. Kalau dibawa ke pasar, masih dapat seikat kangkung segar ternyata saudara.

Padahal, jika kita runtut lagi asal muasal si kangkung tentunya telah melalui proses perjalanan panjang sampai akhirnya tersaji di meja makan. Kita telusur mundur ya. Dari meja makan, sebelum dimasak kita membelinya dari pedagang di pasar. Pedagang pasar dari tengkulak besar, tengkulak besar dari pengumpul, pengumpul dari petani. Nah, petani kan butuh menanam. Menanam awalnya dari benih, benih ditunggu empat sampai enam minggu baru bisa panen! Belum lagi letak ia ditanam jauh dari pasar, perlu berapa lama lagi agar si kangkung sampai ke tangan konsumen akhir seperti saya.

Kita? Cukup datang kepasar bawa uang lima ratus rupiah saja bisa membawa pulang seikat kangkung, memasaknya lalu menikmati sepiring cah kangkung yang lezat. Membayangkannya, saya jadi ternganga. Betapa panjang perjalanan si kangkung. Maka, hanya dapat berucap syukur. Membuat kita sadar agar lebih banyak bersyukur. Terima kasih banyak kepada para petani karena kita tidak perlu capek-capek menanam. Terimakasih bagi para distributor karena kita tidak perlu capek-capek mengangkut. Dan terimakasih kepada para pedagang pasar yang sediakan kangkung untuk kita. Apalagi jika kita membelinya pada tukang sayur keliling. Tidak perlu capek-capek ke pasar. Banyak sekali yang harus kita syukuri. Maka, nikmat Tuhan manakah yang patut kita dustakan?

Allah membentangkan bumi yang luas. Menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuhan juga buah-buahan. Dari sayuran di kebun sampai ikan di laut, kita tidak lantas harus mengambilnya sendiri untuk dapat menikmati. Karena sejatinya rezeki dari-Nya itu apa-apa yang telah sampai ke perut dan melewati kerongkongan kita. Kita dikaruniai harta tidak untuk dimiliki, itu hanya karena kita diizinkan untuk dapat menggunakannya. Karena segalanya hanyalah milik Allah semata.

Perjalanan si kangkung dari petani sampai kita, sejatinya memberi makna. Segala sesuatu ada alurnya. Disetiap alur ada yang mengaturnya. Ingat, tak sehelaipun daun jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Tinggal sikap kita, masih mengeluh kekurangan atau mensyukuri segala yang ada. Bahkan dari hal-hal yang paling sederhana.

Ah, cah kangkung lezat pelengkap ikan goreng tadi pagi. Memberikan cerita yang lain untuk tulisanku hari ini.

-khalilaindriana,2013
100 hari penuh inspirasi

No comments:

Post a Comment