Khalila Butik Hijab Syar'i

Friday, April 26, 2013

Makna Satu Kata #19 MALU: Mengapa Harus Malu Berbuat Kebaikan?


Apa itu malu?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengartikan ‘malu’ sebagai merasa sangat tidak enak, hina, dan rendah karena berbuat sesuatu yang kurang baik atau kurang benar. Sementara itu, definisi ‘malu’ menurut Imam An-Nawawi adalah akhlak mulia yang akan mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegahnya dari melalaikan hak para pemiliknya.

Dalam perspektif Islam, malu merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Bahkan dalam beberapa hadits disebutkan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Bagaikan dua sisi yang tak terpisahkan. Di mana jika tiada malu pada diri seseorang maka tidak sempurnanya pula imannya.

“Iman itu bercabang tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih, yang paling utama adalah kalimat la illaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan, dan malu termasuk cabang dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menempatkan malu di kehidupan akan memberikan benteng pada kita dalam setiap keputusan untuk bertindak. Kita tidak akan berbuat sesuka hati tanpa mengindahkan aturan, hukum, syariat dan segala hal yang menjadi batasan. Akan ada sanksi sosial maupun hukum dari Tuhan apabila seseorang tidak mengindahkan adanya rasa malu ketika melakukan perbuatan yang kurang baik. Orang yang merasa malu cenderung bersikap menarik diri dari orang-orang di sekitarnya, karena takut dicemooh atau karena tidak siap menghadapi respon yang timbul setelahnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Al-Hayaa’ (malu) merupakan pecahan dari kata al-Hayaat (hidup). Hal ini karena sesuai dengan hidupnya hati seseorang yang mendorong untuk berperangai dengan sifat malu. Sedikitnya rasa malu merupakan tanda matinya hati dan ruh. Maka apabila hati itu hidup, rasa malunya akan lebih sempurna.” 

Jadi, jelaslah sudah. Malu merupakan sifat yang harus dimanajemenkan dengan baik agar ia menjadi sifat yang terpuji. Agar ia dapat menjadi pengendali amal baik. Kita perlu membenamkan perasaan malu pada Allah ketika berbuat maksiat. Malu pada Allah yang Maha Melihat. Malu jika suatu saat rekaman video kemaksiatan kita di dunia diputar dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling di hari pembalasan. Na’udzubillahi min dzaalik.

Namun, dewasa ini malu tidak lagi terbatas pada malu berbuat keburukan. Ada hal yang menurut saya lebih memalukan darpada sekedar berbuat keburukan. Yakni malu untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa? Malu dianggap baik, malu dianggap sok pintar, malu dianggap alim, serba malu pada anggapan manusia. Malu pada pandangan positif yang tertuju pada kita. Sehingga seringkali kita ragu-ragu dalam berbuat kebaikan. Nanggung, tidak total. Malu berbuat baik menjadi penghalang terbesar untuk menebar kebaikan. Sering saya mendengar, “Saya begini sajalah, lebih baik berbuat buruk tapi niatnya baik, daripada berbuat baik niatnya buruk”. Nah, belum apa-apa sudah berprasangka buruk pada orang yang berbuat baik. Sejatinya, niat dan amal memang harus benar. Selaraskan antara niat dan realisasi perbuatan.

Terkadang, berbuat baik memang harus ‘nampak’ secara nyata. Karena di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang penuh hal negatif saat ini, sangat dibutuhkan contoh konkrit apa dan bagaimana perbuatan baik itu dilakukan. Bukan, bukan untuk membanggakan diri. Bukan untuk sekedar pameran. Hanya saja, masyarakat harus lebih banyak porsi asupan contoh kegiatan positif. Teladan untuk berbuat baik. Harus lebih banyak orang yang tidak malu untuk menyatakan diri dia berbuat baik.  Palagi untuk saling menasehati dalam kebaikan. 

Taruhlah malu pada tempatnya. Saat ini, orang yang berbuat maksiat saja santai dan percaya diri pada keburukannya. Jadi, mengapa kita harus malu untuk mengaku berbuat baik dan saling menasehati dalam kebaikan?

Khalila Indriana, 2013.

100 hari penuh inspirasi



No comments:

Post a Comment