Khalila Butik Hijab Syar'i

Wednesday, August 19, 2015

Antara Bahagia dan Ditagih Hutang

Mungkin, judul postingan kali ini cukup menimbulkan tanya. Apa hubungan antara bahagia dan ditagih hutang? Saya bukan sedang membahas bahagia karena bebas hutang ya. Tapi, ini pengalaman yang dapat saya ambil hikmahnya. Ya, antara bahagia dan ditagih hutang.

Saya memiliki satu akun sosial media facebook, yang cukup banyak teman baik yang saya kenal lewat dunia maya atau mereka yang benar-benar saya kenal di dunia nyata. Keduanya ada yang benar-benar akrab, ada juga yang hanya kenal selintas saja. Saya sendiri cenderung mengikuti mana yang baik saja, jika pertemanan itu membuahkan kebaikan maka saya anggap ada sisi positif dari dunia facebook ini.

Jujur saya tidak terlalu sering mengumbar apa-apa yang terjadi dalam hidup saya di medsos. Karena bagi saya, hidup harus dinikmati bukan hanya ditunjukkan lewat update status. Jika ada hal yang menarik, pengalaman yang unik, momen-momen tertentu dalam hidup atau hal-hal membuat saya sedih dan bahagia, saya cenderung menuliskannya sebagai hikmah agar dapat diambil pelajaran juga bagi orang lain. Jika ada unggahan orang lain yang saya rasa bermanfaat, saya suka membagikanya agar oang lain juga membacanya.

Umumnya, orang tidak suka pada orang yang membagikan hal-hal yang negatif, termasuk keluhan, cerita sedih-sedih, umpatan, juga yang berbau sombong, pamer, riya dan teman-temannya. Orang lebih suka mendengar kabar gembira, sesuatu yang menyenangkan, hal yang membahagiakan, pengalaman seru dan menarik, hal-hal yang inspiratif dan berhikmah, dst. Saya sadar betul akan hal itu. Terkadang saya juga membuat status-status semacam itu.

Lalu, apa menariknya?

Ada satu kesimpulan yang saya tarik tentang ini. Entah itu hanya perasaan saya, atau memang iya? Hehe. Begini ceritanya.

Saya termasuk orang yang berada dalam kategori belum beruntung dalam hal finansial, alias masih belum merdeka dari hutang. Saya punya hutang pada beberapa teman dekat saya. Meski nominalnya tak seberapa (gak sampe semilyar lah, kalau ditotal. hehe) namun cukup meresahkan hidup saya. Kapan? Tentu saja ketika jatuh tempo waktu pembayaran, juga saat ditagih. Gak papa kalau saya sudah siapkan uangnya untuk dibayarkan, tapi lain halnya jika saat itu sedang tidak ada uang karena habis untuk kebutuhan dan bayar utang yang lain.

Tagihan datang silih berganti.

Kembali ke judul awal, antara bahagia dan ditagih hutang. Saya sadar saya memiliki hutang yang harus saya bayar. Sayapun sedang berjuang untuk melunasinya, satu-persatu. Tanpa jeda, saat punya rezeki saya utamakan untuk membayar hutang meski dengan cara mencicil. Sebagian lain untuk biaya hidup, dan sedekah. Saya tetap hidup normal, seperti orang-orang.

Hey, punya hutang bukan berarti kamu tidak hidup kan? Begitu pula dengan saya. Saya tidak pernah memungkiri bahwa saya masih punya hutang di sana-sini. Saya juga tidak akan lari jika masih punya hutang, saya akan berusaha membayar semampu saya.

Namun, apakah saya tidak bisa (atau tidak boleh?) melakukan hal lain? Seperti menjalani hidup normal, membangun impian, mewujudkan cita-cita, membahagiakan orang-orang yang saya sayangi, dan hidup bahagia? Tentunya saya masih seperti manusia normal, ingin menjalani hidup yang bahagia. Meski dengan status masih punya hutang.

Terkadang, saya mengekspresikan rasa bahagia saya dengan menulis status-status fesbuk semacam ini:

"Alhamdulillah, rezeki emang gak kemana. Terimakasih ya Allah, atas rezeki yang kau limpahkan hari ini, dari arah yang tidak disangka-sangka..."

"Bahagia itu sederhana. Seperti menikmati segelas jus dan suasana di sore hari dengan disirami hangatnya mentari."

Atau update foto lagi nonton film di bioskop. Atau lagi jalan-jalan ke Jogjakarta.

Sampai di sini, saya masih menganggap itu status yang wajar. Ternyata, anggapan lain muncul. Tidak sama dengan apa yang saya pikirkan.

Kawan, saat saya bilang saya dapat rezeki dari arah yang tak di sangka-sangka, tidak berarti saya sedang banyak duit. Mungkin saja nominal rezeki yang saya dapat tidak lebih dari lima digit. Rezeki yang saya terima bisa saja berbentuk kesehatan, kesempatan, dst. Tidak selalu uang yang banyak. Saya adalah orang yang selalu berusaha mensyukuri hal-hal kecil, merayakan pencapaian-pencapaian kecil, dengan cara yang sederhana dan bahagia (versi saya sendiri).

Saat saya minum jus dan menikmati udara sore, bukan berarti saya banyak uang untuk jajan. Tak juga berarti saya sedang santai-santai tidak punya kerjaan, atau tidak punya masalah dan beban pikiran. Bukan berarti saya lupa diri.

Saat saya nonton bioskop, itu karena ada sahabat saya yang butuh teman nonton. Saya ditraktir buat nonton. Ini juga rejeki, masa saya tolak? Tidak semua hal yang saya alami, saya kerjakan, saya lakukan menunggu saya punya uang. Uang memang penting, tapi lebih penting bagaimana kita menjalani hidup sebaik-baiknya.

Maka, saya sering merasa heran (dan agak terkejut) jika saya sedang mengalami hal yang membahagiakan, tetiba ada yang menagih hutang. Nah lho! (perhatian banget gak sih?)

Saya selalu berusaha untuk menjalani hidup yang bahagia, bahkan tanpa uang. Saya menikmati hidup dengan cara saya sendiri, ukuran kebahagiaan saya sendiri. Dan kebetulan ukuran kebahagiaan saya bukanlah uang. Jadi kalau saya update status yang bernada BAHAGIA, plis jangan berfikir saya sedang BANYAK UANG. Karena, Anda akan kecewa. Apalagi yang merasa uangnya saya hutang.

Saya benar-benar tidak masalah jika ada yang menagih hutang. Toh itu hak mereka, uang yang ditagih uang mereka yang masih saya bawa. Tapi, haruskah 'merusak' suasana bahagia saya dengan cara menagih hutang pada saat itu juga? Sekali lagi saya tidak selalu bahagia ketika banyak uang. Karena kalau saya banyak uang, tentunya saya akan bayar hutang, uang habis, baru saya merasa bahagia karena lega sudah membayar hutang.

Saya sudah punya prinsip baru dalam menyikapi hutang. Dulu, saya selalu terjebak untuk menyelesaikan sesuatu dengan tergesa-gesa, termasuk saat membayar hutang. Saya terjebak hutang kembali, karena membayar hutang dengan hutang. Gali lubang tutup lubang, sudah jadi keseharian. Jadinya lubangnya makin banyak, bukannya berkurang.

Namun, saya sadar. Butuh tekad yang kuat untuk sesegera mungkin merdeka dari hutang. Masa Indonesia sudah merdeka 70 tahun, saya masih terbelenggu hutang? Okelah, saya putuskan untuk sesgera mungkin bebas hutang. Dalam kalender saya, tahun 2016 saya bebas hutang. Hutang saya 0 rupiah alias tidak ada hutang pada siapapun. Jangan sampai mati membawa hutang. Saya takut mati dalam keadaan masih berhutang. Saya sedang berjuang banget sekarang, membayar hutang dengan hasil jerih payah saya sendiri alias tidak lagi mengandalkan bantuan orang lain untuk membayar hutang.

Begitulah, curhatan singkat (atau panjang? haha) saya tentang bahagia dan ditagih hutang. Saat saya terlihat bahagia, bisa dilihat dari status fb saya, maka saat itu saya selalu menyiapkan diri untuk ditagih hutang. Ini nyata. Saya awalnya kaget, juga bercampur menggugat pada Tuhan, apa saya tidak pantas menjalani hidup yang bahagia, ketika masih punya hutang? Namun saya semakin bijak dalam menyikapinya. Saya tidak lagi marah, apalagi menggugat tuhan. Saya putuskan untuk lebih bersabar. Kemudian, mencari solusi terbaik untuk segera melunasi hutang. Bismillah, bi idznillah.

Pelajaran yang saya ambil, "Janganlah merusak kebahagiaan kecil seseorang. Bisa jadi ia bahagia bukan karena harta yang melimpah, namun sedikit bahagia karena sejenak melupakan beratnya kehidupan yang tengah dijalaninya."

Semoga Allah memberikan rezeki yang melimpah untuk orang-orang yang memberikan saya pinjaman. Semoga Allah juga memberikan rezeki yang cukup (kalau bisa cukup melimpah juga, haha) untuk saya dapat membayar hutang, segera terbebas hutang, dan hidup lebih mulia tanpa hutang. Allahuakbar!


Thursday, May 7, 2015

Hidup adalah Pencapaian, Good Job! ^^

Assalamualaikum!

Sudah lama tak berkunjung ke blog ini, jadi kangen juga ya? Hehe. Pengen banyak cerita tentang aktifitas sehari-hari yang saat ini saya jalani. Tapi, mulai dari mana?

Oke, daripada bingung saya mulai dengan kabar bahagia. Setelah beberapa waktu bertanya-tanya bagaimana kabar buku "Kata Sejuta Makna", akhirnya dapat kabar juga dari pihak Elexmedia. Yah, meski harus berjuang menerobos birokrasi dari kelompok Kompas Gramedia itu (via telepon, hehe) saya berhasil menghubungi bagian pengurusan royalti, Bu Erna.

Dan, secara singkat kata, inilah hasil penjualan buku saya per Juni-Desember 2014. Hasilnya?


Alhamdulillah, lumayan. Bisa buat beli es teller, haha...
531 dari 2500, sekitar 20% udah kejual. Alhamdulillah banget, bersyukur dan bersyukur...

Oke, dari situ saya seperti mendapatkan suntikan semangat untuk menulis buku lagi. InsyaAllah ada beberapa outline yang siap digarap untuk tahun ini bisa berjuang ke penerbit. Menulis buku menjadi teramat mengasyikkan. Karena menulis buku adalah sebuah pekerjaan sunyi, di mana kita hana berbekal mengolah kata, meluapkan ide, mengembangkan imajinasi dan menghasilkan karya.

Tulis saja. Tulis saja. Itu saja pesan saya. Apakah saya menulis karena motivasi uang? Hmm... terserah yang menilai sajalah. Yang jelas saya hepi bisa menulis, sekaligus menggendutkan rekening saya.

Alhamdulillah, setelah mundur teratur dari Fimadani, masih ada yang hire dari Sribulancer dan mulai megang FP Hijab Aisyah. Sembari menyelesaikan pekerjaan di Izwie. Semoga bisa lanjut terus. Lumayan, menulis artikel di web professional membuat saya merasa terus hidup dan bersemangat untuk menulis.

Apa lagi yang ingin saya sampaikan? Saya hanya ingin meluapkan kegembiraan saya di sini. Saya bahagia, meski dengan ukuran kebahagiaan yang saya buat sendiri. Hehehe...


Love you All,


Khalila Indriana, 7 Mei 2015.

Tuesday, February 17, 2015

Kerja Sebagai Ibadah

"Nak, bekerjalah dengan ikhlas, yang telaten."

Sepenggal kalimat yang menyentuh dari sosok ayah kepada anaknya. Aku biasa memanggilnya Babe. Babe jarang sekali menasehatiku ini itu. Seringnya sih tentang shalat shubuh tidak boleh telat, hati-hati bawa motor serta tekunlah dalam bekerja. Apapun pekerjaannya.

Kalimat di awal meluncur dari mulut beliau saat aku mulai diterima bekerja sebagai staf di P2B. Semacam Pusat Pengembangan Bisnis di kampusku dulu, Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Ceritanya balik lagi ke kampus. Menelusur awal mula aku 'nyemplung' ke situ adalah saat saudari kembarku ditawari posisi tersebut. Namun, berhubung dia sudah menerima tawaran dari Fakultas Ekonomi (FE) terlebih dahuli untuk menjadi dosen, dia tidak dapat menerima tawaran tersebut.

Saat itu, aku tidak langsung mengambil untuk menempati posisi tersebut. Pemikiranku berawal dari niatku untuk mencari pekerjaan yang aku masih bisa pegang laptop dan internet. Mengingat pekerjaanku sebelumnya adalah sebagai pekerja paruh waktu menulis konten website dan portal berita online. Setelah menimbang-nimbang, bertanya pada sahabatku Mas Fery, akupun berniat kuat untuk mengambil kesempatan ini. Seperti kebanyakan nasehat, kesempatan tidak datang dua kali bukan?

Aku sharing dengan saudari kembarku suatu sore di taman alun-alun kota Ponorogo. Aku utarakan niatku untuk mengambil pekerjaan ini. Dengan pertimbangan, aku ingin mengumpulkan modal untuk membuka usaha tahun depan. Untuk ini aku skip ceritanya, aku sambung di tulisan lain. Intinya, diapun mendukungku. Toh, syaratku cuma satu: masih bisa mengemban tanggung jawabku sebagai penulis di portal Media Islam Online (MIO) dan menulis artikel web.

Segera aku menghubungi pak Abas, sebagai kepala P2B yang memberikan tawaran tersebut. Ternyata beliaupun menyambutku dan mempersilakan untuk diskusi tentang apa saja yang bisa aku kerjakan di sana. Pertemuan awal aku hanya bertemu dengan staf juga, namanya mas Aziz.

Singkat kata, hari senin aku bertemu dan sharing dengan mas Aziz, lalu mengisi formulir pendaftaran penerimaanku sebagai staf magang untuk mengurus program D1 Kelas Wirausaha. Sebagai manajer lah, karena sebelumnya belum ada staf yang benar-benar mengurus D1. Alhamdulillah, ini kejutan pertama. Karena sebelumnya aku kira akan menjadi mentor untuk KWU, tapi ternyata kebagian tugas mengurus ini itu dan aku kerja di ruangan saja. Cukup sesuai dengan apa yang menjadi pertimbanganku mengambil pekerjaan ini.

Namun, baru hari Kamis (12/2) aku benar-benar masuk kerja. Ngantor hari pertama. MasyaAllah... banyak hal baru yang aku dapatkan di sana. Lingkungan yang baik, orang-orang yang ramah dan bersemangat, ilmu-ilmu baru, pengalaman yang tidak akan aku dapatkan sebelum masuk ke sana.

Semuanya terasa menyenangkan, terbawa atmosfer pekerjaan yang dituntut rapi, bersih, cepat. Dan tentunya satu hal perubahan besar yang terjadi dalam hidupku selama kurang dari satu minggu ini: HIDUP LEBIH TERATUR. Inilah yang selama ini sangat sulit aku dapatkan. Terutama pasca tak lagi kuliah dan minim aktifitas di luar rumah. Aku kembali bersemangat dan hidupku berubah, ke arah yang lebih positif tentunya.

Tentunya perjalanan awalku di tempat baru tak semulus itu. Masih banyak hal yang perlu aku pelajari. Banyak hal yang belum aku kuasai. Belum lagi stress hebat yang beberapa waktu aku rasakan, mungkin akan menjadi kenangan manis untuk suatu saat aku kenang. Aku tidak akan menceritakan itu di sini. Cukup Allah yang mendengarku. Itulah, tidak ada yang sepenuhnya manis dalam hidup. Pasti ada getir yang dirasakan. Tak semua menyenangkan, namun harus ditelan.

Aku menikmatinya, apapun itu. Aku hanya berusaha menghadapinya dengan shalat dan sabar. Kadang menangis sendirian juga sudah cukup melegakan. Aku lebih menghargai senyuman babe dan mami yang merestui apa yang aku kerjakan sekarang. Meski di samping itu masih banyak permasalahan yang harus aku bereskan, semoga dapat terselesaikan satu-persatu.


Saatnya menikmati asam garam kehidupan. Bersikap dewasa dan bertanggungjawab terhadap apapun resiko atas keputusan yang diambil. Hidupmu, tidak akan pernah digantikan orang lain. Kamulah yang harus menghadapinya. Selama nyawa masih ada, saat itulah perhitungan amal tetap berjalan. Jangan buat hidupmu sia-sia dengan rasa benci, karena belum tentu orang yang kau benci memikirkanmu. Bahagiakan hidupmu dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Terakhir, terus terang aku sedang berada dalam usia kritis. Usaha menemukan jodoh yang tepat masih berjalan, ada secercah harapan di depan sana. Tak sepenuhnya berharap, namun tetap berusaha, berdoa, istikharah, memohon petunjuk dari Allah. Kalau benar jodoh, moga Allah bimbing kami untuk sampai pada pertemuan selanjutnya. Siapapun yang membaca tulisan ini, mohon doakan semoga dilancarkan... Saya doakan pula segala urusan kalian berjalan lancar. Aamiin.

 "Nak, bekerjalah dengan ikhlas, yang telaten. Kalau kerja jangan mikir 'bayaran' dulu, ada Allah yang mengatur rezekimu. Minta sama Allah..."(pesan ayahku)

Begitulah, maka niatkan selalu kerja sebagai ibadah agar semua yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin. Bisa jadi pemberat amal untuk meraih syurga yang Ia janjikan. InsyaAllah, Bismillah, biidznillah...

Tidak ada sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Bisa jadi itulah jawaban dari doa-doamu, maka saat Allah telah mengijinkan maka terjadilah. Tugasmu hanyalah berusaha menjalaninya dengan sebaik-baiknya, dengan kerja keras dan tetap rendah hati. Singkirkan hal negatif yang dapat membuatmu merasa down. Ingatlah, ada Allah yang Maha Mengatur Hidupmu.

Babe, Mami, doakan selalu anakmu ya. Aku ingin hidup bahagia, dan bisa membahagiakan kalian. Doakan perjodohanku berjalan lancar. Semoga awal tahun depan aku sudah menjadi istri untuk suami yang Allah pilihkan untukku serta calon ibu yang melahirkan cucu-cucu kalian... doakan.. doakan. :)

Ponorogo, 18 Februari 2015 00:26

Khalila Indriana

P.S. Pengalaman seru selama awal di P2B akan aku ceritakan di tulisan berikutnya...