Khalila Butik Hijab Syar'i

Showing posts with label syukur. Show all posts
Showing posts with label syukur. Show all posts

Tuesday, April 9, 2013

Makna Satu Kata #7 MILIK: Hanya Semata Karena Kita Diizinkan


Dahulu, sewaktu sekolah menengah atas, saya pernah memiliki benda kesayangan. Sebuah jam tangan bulat metalik dengan bahan karet warna biru dongker pada tali pergelangannya. Angkanya bisa menyala jika dipencet tombol pada sisinya. Agak norak, ya? Jam itu sebenarnya pemberian dari kakak tertua saya, karena hingga saat ini saya sendiri belum pernah membeli jam tangan sendiri. Entah kenapa saya sangat suka dan merasa nyaman memakainya. Kemanapun, terutama saat pergi ke sekolah dan keluar rumah.

Suatu hari, saya dan keluarga dalam perjalanan pulang dari kota Sidoarjo. Mengunjungi saudara, adik dari ayah yang berdomisili di sana. Waktu itu sudah larut malam kami tiba di terminal Seloaji, kota Ponorogo. Karena kondisi badan yang lelah, setengah terkantuk-kantuk saya turun dari bus yang masih menyala. Maklum, mereka tidak ngetem terlalu lama. Tetapi langsung melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Karena barang bawaan saya cukup banyak saya luput meneliti satu persatu barang bawaan saya. Setelah turun dan berjalan beberapa meter, barulah saya tersadar. Deg! Jam tangan saya mana?

Saya raba di pergelangan tangan kanan-kiri dan di saku. Tapi tidak juga ketemu. Karena saya yakin tadi waktu naik masih saya pakai. Setengah mengingat, saya teringat waktu di perjalanan saya sempat melepas jam tersebut dan menaruhnya di pangkuan saya. Sebelum akhirnya tertidur pulas sampai terminal ini. Yah, pastilah itu terjatuh saat saya berdiri dan mengurus bawaan yang lain. Saya celingukan mencari bus yang tadi saya tumpangi. Dan lutut sayapun lemas, melihat punggung bus yang melaju keluar gerbang terminal. Seolah mengatakan, “Selamat tinggal, sudah... ikhlaskan saja jam tangannnya.” *nangis

***
Begitulah. Kita baru benar-benar merasa memiliki setelah kehilangan. Pada apapun yang kita akui sebagai milik kita. Ada perasaan hampa, kecewa dan sedih saat kehilangan sesuatu atau ditinggalkan seseorang dalam fase-fase hidup kita. Belajar dari semua itu, hanya ada dua kemungkinan yang saya yakini. Segala yang datang akan pergi, yang kita miliki akan hilang.

Konsep kepemilikan di dunia ini sebenarnya sederhana. Segala seuatu yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta adalah milik-Nya. Semuanya, termasuk diri kita. Sedangkan kita hanya diizinkan untuk memanfaatkan apa yang Ia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan kita, mempermudah kita dalam menjalani kehidupan ini. Jadi, ketika manusia banting tulang mencari penghidupan, harta dan seterusnya harus tetap memegang prinsip bahwa ada yang lebih Maha Kuasa. Kita berusaha mendapatkan semua itu untuk menjalankan peran kita sebagai khalifah fil-ardh, menuju kehidupan yang maslahah dan bermanfaat. Bukan untuk menguasai dunia, menumpuk harta kemudian berperilaku sombong atas segala yang kita raih.

Dunia ini ibarat numpang minum, katanya. Sebagai ladang beramal dan beribadah sebagai bekal kelak di akhirat. Ibarat jembatan yang melayang, menyeberang untuk sampai ke negeri akhirat. Maka sepertinya tidak bijak membangun istana di atas jembatan. Karena pada masanya ia akan hancur tak bersisa. Selagi di dunia, jangan hanya kita gunakan untuk menumpuk harta. Tapi, bagaimana kita dapat mencapai syurga dengan harta yang kita ‘diizinkan’ memanfaatkannya dan membawa keberkahan.

Entah berapa banyak kasus orang-orang yang kehilangan lalu kecewa, depresi, bunuh diri dan seterusnya karena ia terlalu mencintai apa yang mereka miliki. Maka, mengambil pelajaran dari itu semua, mari memaknai apa yang berada di sekitar kita secara wajar dan bijak. Terutama yang selama ini kita terlalu mengagungkan karena status kepemilikan tadi.

Ada sebuah cerita dari seorang teman. Ia menceritakan tentang kisah kemurahan hati seorang wanita yang apabila suatu benda yang ada pada dirinya (terutama yang ia sayangi) dipuji atau ada yang berkenan memilikinya ia dengan rela hati melepas dan memberikannya pada orang tersebut. Luar biasa. Bukan apa-apa, mungkin saja memang pemahamannya tentang konsep memberi adalah barang yang kita cintai bukan yang kita melihatnya saja tidak sudi. Wallahua’lam. Semoga kita meneladani yang baik-baik dan dapat mengambil pelajaran.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Segalanya hanya milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.

-Khalilaindiana, 2013.
100 hari penuh inspirasi

Saturday, April 6, 2013

Makna Satu Kata #4 Alur: Perjalanan Kangkung


Pagi menjelang Dhuha. Matahari mulai tinggi. Berdua bersama ibu saya beringsut pergi ke pasar. Niatnya membeli beberapa ekor ikan nila segar untuk digoreng, lauk sarapan pagi ini. Wah, asik juga. Lumayan lama tidak jalan ka pasar pagi bersama ibu. Meski jaraknya cukup dekat di tengah kota, sekitar 15 menit dari rumah dengan mengendarai motor. Akhir pekan paling enak dihabiskan di rumah saja, masak-masak dan makan enak sama keluarga. Maklum, hari-hari biasa sebelum ke kampus suka tidak keburu sarapan bersama (bandel). Maka dari itu, kemarin malam kami membuat rencana masak ikan goreng favorit keluarga. Oh ya, jangan lupa masak juga cah kangkung dan sambal sebagai pelengkap.

Mari berburu ikan!

Sudah ada langganan ikan di pasar pagi, ikannya lumayan lengkap di sana. Meluncurlah kami dengan santai menuju TKP. Lhoh? Mas-mas pedagang ikannya mana? Celingukan kita jadinya. Ooh, ternyata lokasinya pindah agak ke selatan di ruas kiri jalan. Singkat cerita tidak pakai lama, terpilihlah 9 ikan-ikan nila gendut seberat 1,5 kg. Sekilonya kena 20 ribu rupiah. Itupun sudah ditawar dari harga awal 22 ribu rupiah. Lumayan, sisa uangnya buat bakal beli kangkung nanti di seberang jalan. Begitulah wanita dalam hal tawar-menawar. Meski terkadang harus ngotot-ngototan dengan si penjual, harga turun seribu dua ribu sudah senang minta ampun. Dalam teori ekonomi, potongan harga selalu memberi efek lebih kaya bagi pembeli. Ibuku memberi sedikit petunjuk cara memilih ikan. Pegang bagian dada ikan, cari yang masih kencang dan tidak lembek. Jadi, ikan yang kita pilih dipastikan dalam kondisi segar bugar sehat wal’afiat. Nah lo, bukannya itu ikan mati ya? Hehe..

Lanjut jalan ke los pedagang sayur-mayur. Karena ini pasar, barang tentu kita harus menentukan jenis sayur apa yang hendak kita beli. Biar tidak putar-putar, nanti malah tidak dapat yang dibutuhkan. Karena kita mau beli kangkung, kita ke pedagang kangkung. Meski ia juga menjual terong, alangkah lebih bijak kita tetap fokus membeli kangkung. Biar tidak jadi cah terong. Halah!

Nah, itu dia kangkungnya. Digelar oleh seorang ibu-ibu yang cukup renta. Kelelahan nampak jelas di kerut wajahnya. Sepagi dan setua itu, ia masih berjualan di pasar. Setia dengan dagangan sayurannya. Tapi, nampaknya ia terlelap cukup pulas.

“Buk, kangkungnya berapa buk?” tanya ibuku.

Masih belum menyahut. Ibuku menyenggol bahu si ibuk yang tengah asyik dengan mimpinya. Si ibu terbangun dan menyadari kehadiran dua sosok di depannya. Setengah tergagap ia berusaha mengingat harga kangkungnya.

“Lima ratus, satu ikat,” jawabnya  pelan.

“Seribu tiga nggih?” ibuku mencoba jurus menawarnya.

“Mboten tawi buk,-tidak menawarkan. Kalo pedagang keliling jualnya sudah tujuh ratus lima puluh rupiah.” Si ibu melakukan pertahanan, dengan sedikit pembelaan. Iyakah? Batinku.

“Seribu tiga kalau boleh,” mulai minta kepastian.

“Dereng angsal,Bu -belum boleh,Bu.” Kekeuh juga ni ibu yang jualan.

Ibuku jalan lagi. Coba cari pedagang kangkung tiga meter di sebelahnya. Ternyata sama saja. Harganya lima ratus perak juga seikat. Eh, waktu ditawar malah ditunjukin kangkung yang kualitasnya lebih buruk. Layu-layu, padahal yang ditawar ibuku juga tidak seberapa segar dari yang tadi. Urung, akhirnya ibuku memutuskan untuk membeli di pedagang kangkung yang pertama ia tawar.

“Sama-sama lima ratusnya, pilih yang sana aja. Lebih segar-segar. Heran, masa kangkung di rumah sama di pasar harganya sama,” geleng-geleng.

Ya, maklumlah bu. Mungkin karena kita end user kali ya. Jadi harganya ya di kasih segitu-gitu saja. Akhirnya tiga ikat kangkung seharga seribu lumaratus rupiah jadi kami bawa pulang bersama ikan-ikan yang lebih dulu kami beli. Lumayan. Namun yang paling menyenangkan adalah momen tawar-menawar di pasar, memang selalu sayang tuk di lewatkan.

***

Ada yang menarik bagi saya, menyadari bahwa harga-harga sayuran semisal seikat kangkung tadi ternyata tak lebih mahal dari harga sebotol air mineral yang biasa saya beli di kampus. Seharga sekali parkir di swalayan dan lebih murah daripada ngasih pengamen yang lewat depan rumah. Iya, soalnya di tempat saya, pengamen suka melengos sih kalo dikasih koin lima ratusan. Minimal serbu baru bilang terimakasih mbak. Kalau dibawa ke pasar, masih dapat seikat kangkung segar ternyata saudara.

Padahal, jika kita runtut lagi asal muasal si kangkung tentunya telah melalui proses perjalanan panjang sampai akhirnya tersaji di meja makan. Kita telusur mundur ya. Dari meja makan, sebelum dimasak kita membelinya dari pedagang di pasar. Pedagang pasar dari tengkulak besar, tengkulak besar dari pengumpul, pengumpul dari petani. Nah, petani kan butuh menanam. Menanam awalnya dari benih, benih ditunggu empat sampai enam minggu baru bisa panen! Belum lagi letak ia ditanam jauh dari pasar, perlu berapa lama lagi agar si kangkung sampai ke tangan konsumen akhir seperti saya.

Kita? Cukup datang kepasar bawa uang lima ratus rupiah saja bisa membawa pulang seikat kangkung, memasaknya lalu menikmati sepiring cah kangkung yang lezat. Membayangkannya, saya jadi ternganga. Betapa panjang perjalanan si kangkung. Maka, hanya dapat berucap syukur. Membuat kita sadar agar lebih banyak bersyukur. Terima kasih banyak kepada para petani karena kita tidak perlu capek-capek menanam. Terimakasih bagi para distributor karena kita tidak perlu capek-capek mengangkut. Dan terimakasih kepada para pedagang pasar yang sediakan kangkung untuk kita. Apalagi jika kita membelinya pada tukang sayur keliling. Tidak perlu capek-capek ke pasar. Banyak sekali yang harus kita syukuri. Maka, nikmat Tuhan manakah yang patut kita dustakan?

Allah membentangkan bumi yang luas. Menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuhan juga buah-buahan. Dari sayuran di kebun sampai ikan di laut, kita tidak lantas harus mengambilnya sendiri untuk dapat menikmati. Karena sejatinya rezeki dari-Nya itu apa-apa yang telah sampai ke perut dan melewati kerongkongan kita. Kita dikaruniai harta tidak untuk dimiliki, itu hanya karena kita diizinkan untuk dapat menggunakannya. Karena segalanya hanyalah milik Allah semata.

Perjalanan si kangkung dari petani sampai kita, sejatinya memberi makna. Segala sesuatu ada alurnya. Disetiap alur ada yang mengaturnya. Ingat, tak sehelaipun daun jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Tinggal sikap kita, masih mengeluh kekurangan atau mensyukuri segala yang ada. Bahkan dari hal-hal yang paling sederhana.

Ah, cah kangkung lezat pelengkap ikan goreng tadi pagi. Memberikan cerita yang lain untuk tulisanku hari ini.

-khalilaindriana,2013
100 hari penuh inspirasi

Friday, April 5, 2013

Makna Satu Kata #3 SYUKUR: Alhamdulillah for Everything


"Alhamdulillah for everything. Thanks Allah; My life is full of blessings."

Kalimat ini saya pungut di beranda saat membaca postingan foto salah satu teman. Mengingatkan lagi, haruskah kita mencari-cari alasan yang wow untuk berucap syukur? Yang sering muncul malah alasan untuk mengeluh ini itu. Padahal banyak sekali yang patut kita syukuri. Apapun yang telah kita terima, yang sudah melekat pada diri, bahkan bersyukur untuk sesuatu di masa yang akan datang. Semacam afirmasi positif untuk mendukung kecepatan terealisasi.

Akhir-akhir ini dosen saya sering mengingatkan untuk memperbanyak syukur dengan mengingat hal baik yang kita terima sepanjang hari. Terapi syukur, kata beliau. Sekecil apapun nikmat yang kita rasa akan menjadi berkah yang besar. Kok bisa? Iya, kan kalau bersyukur nikmatnya terus ditambah. Jika untuk hal-hal yang berada dekat dengan kita saja kita belum mampu bersyukur, bagaimana mau bersyukur untuk sekitar. Alih-alih melihat mobil baru tetangga bawaannya senewen. Harusnya bisa ikut bahagia. Alhamdulillah, tetangga saya mobilnya sudah baru. Semoga Allah tambahkan nikmatnya, dan semoga besok-besok saya juga ketularan. Hehe..

Menurut Akhiri Fajri, penggiat At-Tafkir Institute Lampung, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7)

Lalu, bagaimana cara kita bersyukur? Syukur dalam hati, syukur melalui lisan, dan terakhir syukur dengan perbuatan. Syukur dalam hati, berarti kita meyakini betul bahwa ada kekuasaan Yang Maha Memberi. Tidak ada keraguan, nikmat yang disyukuri akan senantiasa menambah keyakinan kita kepada-Nya.

Syukur yang diungkapkan, lisan tak segan meluncurkan kata-kata syukur setiap saat sebagai pengakuan akan kebesaran-Nya. Ucapkan Alhamdulillah, terimakasih, dan memuji kebesaran-Nya. Ucapan syukur juga sebagai doa. Agar kita selalu ingat untuk berdoa saat senang maupun duka. Syukur yang dinyatakan melalui perbuatan. Cara terbaik dengan memaksimalkan nikmat yang telah dikaruniakan untuk jalan kebaikan. Agar tak sia-sia, agar dicatat sebagai amal baik disisi-Nya. Alhamdulillah, sampai hari ini jari-jari saya masih lengkap dan dapat menjejakkannya ke key board untuk sekedar berbagi sedikit ilmu yang saya fahami lewat tulisan. Begitulah, selalu ada cara untuk bersyukur. Tugas kita untuk lebih kreatif lagi dalam realisasinya.

Begitulah seharusnya hidup, penuh rasa kesyukuran. Seorang sahabat pernah berdoa, lebih baik ia bersyukur dengan nikmat, daripada harus bersabar dengan cobaan dari-Nya. Salah satu kebahagiaan bagi setiap muslim, apabila ia mendapat musibah ia kuat bersabar dan apabila ia mendapat nikmat ia pandai bersyukur. Tentu tanpa menghilangkan keutamaan keduanya. Bagaimana jika orang lain ada yang tertimpa musibah? Masihkah kita dapat bersyukur? Keharusan kita berucap segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Lalu, banyak-banyak berdoa agar dihindarkan dari musibah yang sama. Juga bersyukur. Bukan, maksudnya bukan malah bilang sukurin. Tapi bersyukur kita dapat mengambil pelajaran. Karena semua adalah kehendak dari Yang Kuasa.

Bersyukurlah dari hal yang paling sederhana. Bersyukurlah tentang apa saja. Maka Allah akan membuatnya menjadi luar biasa.

-khalila indriana, 2013.

100 hari penuh inspirasi