Khalila Butik Hijab Syar'i

Showing posts with label Re Post. Show all posts
Showing posts with label Re Post. Show all posts

Thursday, August 30, 2012

Menjejak langkah menginjak usia angka kembar

Menjejak langkah menginjak usia angka kembar.

Sungguh, aku tak tahu mengapa qt dilahirkan kembar.
Pasti, Allah sengaja. Pasti Allah tak sedang coba2. Mungkin, inilah cara Allah menganugerahkan apa yang di sebut kelebihan dan kekurangan dala diri tiap2 manusia.

Allah menyayangiku dan dirimu dengan cara yang Luar Biasa.

Betapa banyak orang kembar di dunia ini, tapi ternyata lebih banyak yang terlahir sendiri-sendiri. Kesamaan bukan untuk dicari perbedaannya. Namun perbedaan,
 bukanlah hal yang harus di pertentangkan dan di banding-bandingkan. Kita tak selalu harus sama, tapi perbedaan jangan pernah menjadi sekat apalagi batas di antara kita.

Seiring usiamu dan usiaku yang berkurang, bertambah pula kebaikan (kata seorang teman). Semoga Allah senantiasa menaungi kita dengan limpahan berkah, dan ridho-Nya.

22 tahun kita tumbuh dan berkembang bersama. Tentu kita berbeda, meski kita kembar. Tentu raga kita terpisah, tapi yakinlah.. hati kita satu. Sungguh, membuat ibu dan ayah kita bangga tentu ada dalam list target pencapaian hidup kita. Bukan nanti, bukan suatu saat. Tapi sepanjang hidup kita, insyaAllah. ^^

My beloved sista.... I love you as I love My self. U're my beloved one in the world.. After Allah, Rasul and Our Mom.. :)

Happy Birthday, Barakallah fii 'umrik ukhtiy....
AKu menghargaimu. Aku menyayangimu. Meski tak pernah terucap, meski tak tahu cara terbaik untuk mengungkap.


with love,big hugz...

KHONA INDRIANA SUKADI





dan inilah reply dari kembaranku... :)
Khoni Indriani Sukadi Asiik.... Sastrawati kita sudah datang... Terlahir sebagai kembaranku... Jika suatu hari nati kalian mengenal Khalila Indriana, entah ia sebagai penulis besar, ekonom besar, maupun seorang ibu dari anak2 yang hebat, maka dengan bangga aku katakan: "Dia adalah SAUDARA KEMBARKU," :-) Makasih ya bochan, semoga shaleha menjadi identitasmu. Tuk buat bangga kedua Ortu, dan menjadi jalam menuju Syurga Firdausy. Amin...... ^_^

Friday, July 13, 2012

Re Post: Cinta: Dari Hati, Turun ke Becak!


Artikel berikut adalah repost artikel kedua saya yang di muat di Koran PONOROGO POS di rubrik Berita Opini.
Alhamdulillah, semoga makin manfaat untuk pembaca sekalian.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
source photos by google

Oleh: Khona Indriana

Mahasiswi Semester 4 Fakultas Ekonomi EP 2010 Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Kelap-kelip lampu di kota, terbayang oleh kita suasana kota besar yang penuh gemerlap oleh cahaya lampu yang menawan. Tak ubahnya kota metropolitan seperti Jakarta atau Surabaya, kota Ponorogo masa kini mulai semarak dengan hiasan lampu di sana-sini. Namun, nampak sesuatu yang berbeda. Pasalnya, bukannya dari gedung-gedung maupun pertokoan lampu-lampu tersebut terpancar. Tapi taukah anda,ternyata lampu hias dari sebuah becak! Masyarakat mengenalnya sebagai “Becak Cinta”. Ya, inilah salah satu fenomena yang kini tengah hangat menjadi tranding topic diperbincangkan masyarakat Ponorogo. Becak unik dengan hiasan lampu warna-warni ini, dapat kita jumpai berseliweran di seputaran alon-alon kota sebagai lokasi operasinya.
Becak merupakan salah satu alat transportasi yang...

Re Post: Sederhana dalam Berfikir, Kreatif dalam Bertindak!


Alhamdulillah, artikel saya ini dimuat di koran lokal Ponorogo Post, Kamis 17 Mei 2012.
Semoga makin bermanfaat.
*********************************************************************************


image by google

Oleh: Khona Indriana*
*Mahasiswi Semester 4 Fakultas Ekonomi Jur.EP 2010 Universitas Muhammadiyah Ponorogo


“..tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi.. tentukan yang tinggi, agar semua terjadi...”
Kalimat diatas adalah sepenggal dari lirik lagu Bondan Prakoso, salah satu lagu yang menginspirasi saya untuk tulisan ini. Ketika mengulang menyanyikan-nya, rasanya bagai mendapat suntikan energi dan semangat baru. Ya, hidup itu berawal dari mimpi. Hingga sekarang ini saya sangat sepakat mengenai hal itu. Tetapi yang perlu diingat adalah,mimpi yang dimaksud bukan mimpi sebagai bunga tidur melainkan mimpi ketika kita terjaga, itulah sebenarnya yang dapat disebut sebagai ‘impian’.
Impian ibarat sebuah visi, di mana butuh tindakan (action) yang mengiringi sebagai misi untuk mencapai impian tersebut. Tanpa tindakan, hanya akan membeku menjadi angan-angan belaka. Mengapa impian harus ditetapkan? Agar...

Sunday, May 20, 2012

Kompetisi Melawan Diri Sendiri

image by google


*artikel ini di publikasikan di Mading AlMa Zone, mading Lembaga Dakwah Kampus UKMI Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Sudah menjadi perkara yang biasa jika kita bertanding dalam suatu perlombaan, turnamen, kompetisi dan seterusnya, melawan rival kita untuk menduduki posisi juara. Terkadang kita menyusun strategi yang matang agar lebih siap menghadapi lawan. Kita memprediksi, meneliti kelemahan-kelemahan lawan kita, dan berusaha mempersiapkan ‘senjata’ yang ampuh untuk menjadi pemenangnya. Diluar itu semua, kita juga mempersiapkan amunisi, untuk mengasah kelebihan kita sendiri. Namun, apabila kita memahami bahwa sebenarnya dalam diri manusia ada yang jauh lebih berat yang harus kita hadapi. Siapa?
Yup, benar sekali. Sebenarnya, diri kita sendiri-lah lawan yang paling berat untuk dapat kita taklukkan. Disaat hati kita ingin melakukan hal yang kita sukai, boleh jadi Allah melarangnya. Allah tidak meridhoinya. Namun di saat Allah memerintahkan untuk dikerjakan, kita malah mangkir. Ya, begitulah sifat manusia. Selain akal dan fikiran, manusia dikaruniakan hawa nafsu yang mempengaruhi setiap gerak langkahnya. Terkadang nafsu kita jauh lebih besar pengaruhnya dari akal sehat dan hati nurani. Menuruti hawa nafsu, meskipun niatnya baik terkadang menimbulkan cara yang salah dalam praktiknya. Maka, tugas kita adalah me-manage-nya agar tidak timbul sesuatu yang berlebihan dan bertentangan dengan kehendak Allah Swt.
Lalu, di manakah letak hawa nafsu itu? Tak lain ada dalam diri kita sendiri! Itulah tantangannya, jika kita berkompetisi dengan orang lain pengaruh bisa jadi dari pihak eksternal. Kita dapat merumuskan stategi perlawanan dan defence-nya dengan melihat lawan kita. Namun, jika yang harus kita lawan ternyata adalah diri kita sendiri, harusnya kita jauh lebih paham apa yang harus kita lakukan. Memang, seorang manusia tak dapat melihat tengkuknya sendiri. Namun, kita masih bisa bercermin bukan? Bercermin dengan apa dan lewat apa? Bercermin dari pengalaman, history kita sendiri untuk senantiasa jadi bahan muhasabah diri yang bagus. Kita tentu juga memiliki orang lain yang hidup di sekeliling kita, yang dapat melihat sisi kelebihan dan kekurangan kita. Masukan berharga dari mereka juga perlu kita dengar.
Hari ini saya terfikir memaknai tentang kompetisi melawan diri sendiri. Banyaknya target-target, cita-cita, impian serta planning yang kita rancang terkadang seperti bongkahan batu bata yang disusun dan lama kelamaan menjadi satu tembok besar yang menjadi penghalang dalam mencapainya. Yang benar, harusnya kerika satu batu bata kita letakkan, maka kita harus mau untuk naik ke atasnya. Terus dan terus hingga batu bata yang tersusun tinggi kitapun mampu berdiri lebih tinggi diatasnya. Menjadi pijakan yang kokoh, bukan lagi menjadi tembok penghalang.
Menulis, menghafal, membiasakan yang baik, kebanyakan diri kitalah yang harus menumbuhkan kedisiplinan. Tanpa adanya kedisiplinan dari diri, tak ada tanggung jawab. Karena, oranglain hanyalah sebagai pihak yang mendukung, mengingatkan dan memberikan kritik pada oranglain. Bukan yang membangun kepribadian dalam diri seseorang. Saya ingin memiliki kesadaran diri untuk lebih disiplin. Keraslah pada dirimu sendiri, maka dunia akan lunak padamu. Sepertinya menjadi kalimat yang harus saya ulang-ulang dan lekatkan dalam setiap perjuangan saya melawan diri sendiri. Satu halaman perhari, mulai menghafal al-Qur’an (lagi) dan membiasakan kebiasaan baik mulai dari yang paling mudah untuk di jalani adalah hal yang saya putuskan untuk jalani saat ini. Yang ingin saya jadikan modal untuk memperkokoh menuju pribadi yang lebih baik lagi. Andaikata saat ini saya belum mambu berbuat sesuatu yang besar, perubahan kecil saya adalah bukti keseriusan saya mengikuti jejak langkah orang-orang besar,dan kelak menjadi orang yang besar pula di masa yang akan datang. Wallahua’lam bi ash-shawab. (Senin, 07 Mei 2012)